Amin

    Rabu, 03 Juni 2015 : 09.22
    parkir malam
    Kisah nyata dari pelataran parkir Kota Makakassar.
    Tema: Sosial Pendidikan.
    Judul: Amin.
    Dicoret Oleh: Eghy Farma Djaya.

    Delapan januari, sudah hampir pukul 22.00 hujan masih saja tanpa henti memandikan kotaku, Makassar. Sedangkan saya tengah sibuk membujuk tagihan perut yang murung karena lapar. Tapi hujan belum juga memberikan toleransinya, saya membujuk rasa lapar dengan cara bermain game.

    Mensiasati si penagih yang lapar, setidaknya agar mau bersabar hingga hujan berhenti. Mungkin karena sudah sangat lapar, hingga konsetrasi pun buyar. Alhasil, saya harus mengakui kekalahan bermain game sepak bola yang berakhir dengan skor telak, 7 berbanding dua.

    Setelah dibantai oleh permainan komputer, syukurlah, akhirnya hujan bersikap bijak. Ia mereda, lalu dengan segera saya keluar mencari makan. "mba' satenya satu porsi ya mba", teriakku setelah menghabiskan waktu 10 menit diperjalanan.

    Ramai pengunjung, mungkin juga mereka sedang mengantri membayar tagihan perut hingga semua kursi sudah punah diduduki oleh mereka. Akhirnya saya kembali menunda untuk segera makan di kedai tepi jalan itu dan meminta untuk dibungkuskan saja.

    Masih sangat ramai, hingga berselang 20 menit pesanan saya belum juga datang. Lalu belum lama, hujan kembali turun. Tapi kali ini ia membawa amunisi air yang lebih banyak. Dingin, saya hanya bisa menunggu. Bosan, saya hampiri saja anak kecil itu, seorang anak kecil yang menjadi juru parkir dikedai itu. Baju dan rambutnya terlihat sangat basah. "Dik, nama kamu siapa?" tanyaku. "nama saya Amin kak" jawabnya dengan bibir yang mulai membiru, mungkin sebab menggigil. "Kenapa jam segini belum tidur?" "besok apa tidak sekolah?" lanjut tanyaku. Tapi jawabanku tertunda, ia tiba-tiba pergi mendekati seseorang, bermaksud menagih jasa parkir.

    "Amin, kamu ngga sekolah" tanyaku sekali lagi saat ia sudah kembali. "Tidak kak, sejak kecil saya tidak pernah bersekolah." Sekejap hati ini berbanjir rasa iba, hanya itu yang seketika mensabotase hati dan pikiran dan harus melihat anak kecil itu bekerja hingga kuyup sampai menjelang malam seperti ini.

    Sayapun semakin dingin, tapi hujan belum berhenti. "Mas.! ini satenya!." Teriak salah satu pelayan memanggilku, syukurlah Tapi lagi-lagi, saya masih harus menunda untuk segera makan. Sebab hujan yang masih belum reda.

    Lalu saya kembali mendekati Amin bermaksud ingin melanjutkan obrolan tadi. "terus orang tua kamu dimana?" tanyaku lagi. "Bapak saya sudah lama pergi sejak saya masih kecil, entah kemana". "Sekarang saya cuma punya ibu." jelas Amin dengan rona polos berganti sedikit haru.

    "Yang saya tahu, bapak saya pergi dengan perempuan lain."
    "dan sekarang, tinggal ibu yang saya lihat sebagai orang tua, dan tanpa bapak lagi"
    "sekarang ibu saya berkerja sebagai payabo' yabo'(yang berarti pemulung dalam bahasa Makassar)
    "saya baru seminggu bekerja disini sebagai juru parkir, saya cuma bisa bantu ibu saya dengan hasil dari kerja ini." jelas Amin.

    Setelah menjelaskan, ia mendadak bungkam, tapi kali ini ia kian murung. Saya mencoba memahami kondisi anak kecil ini lalu saya mencoba untuk mengganti opini obrolan.

    "tapi kamu tau membaca tulisan.?" tanyaku.
    "tidak kak"
    "tapi kalau berhitung kamu tahu kan?"
    "iya kak"jawabnya.
    "ya wajarlah kalau kamu tahu, itukan berhubungan dengan uang, hehe"

    Lalu kami berdua serentak tertawa kecil setelah beralih membahas uang. Tapi dibalik tawa saya, jujur saja saya sangat miris mendengar kondisinya saya hanya mau menghiburnya, setidaknya bisa menepikan ketegangan tadi.

    Selama beberapa menit saat saya berdialog dengan Amin, tidak jarang saya berupaya untuk menyembunyikan rasa sedih setelah mendengar beberapa tanyaku terjawab tidak cukup adil untuk seorang anak kecil. Tapi saya tidak mau membuatnya berkecil hati jika melihatku turut sedih.

    Hujan sudah mulai mereda, saya pun tak lagi menunda untuk lekas pulang dan membayar tagihan perut lapar berkecamuk. Walaupun sejujurnya saya masih ingin melanjutkan obrolan, tapi yasudahlah.

    Saya mencoba untuk men-stabilkan kondisi mental yang digerogoti iba.
    "tapi kamu mau kan kalau saya ajarkan membaca?" tawarku, meskipun saya tidak pernah menjadi guru. Tapi saya sangat ingin untuk memberikan apa yang saya tau kepada Amin
    "kakak serius?" cetusnya dengan antusias.
    "iya serius, yaudah nanti kalau saya kerjanya sudah libur, saya pasti datang kesini lagi"
    "iya semoga kak
    "kenapa ekspresinya gitu? besok kamu masih ada disini kan?"
    "entahlah kak, secepatnya saya mau kerja ditempat lain." wajah Amin mendadak sedih
    "dimana? tapi masih di sekitar sini kan?" tegasku.
    "jauh"
    "oh yaudah kalau emang harus begitu, syukurlah, semoga tempat baru kamu jauh lebih layak ya min"
    "kakak cuma mau berpesan, dan kakak harap kamu ingat ini, saat nanti kamu sudah jauh disana."
    "Amin, suatu saat nanti kamu akan bertemu masa depan, dan dimasa depan, setiap orang pasti akan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan setiap pemimpin butuh pengetahuan yang baik untuk bisa berhasil memimpin, makanya kamu harus kuat."

    "ingat, jangan pernah malu untuk bertanya, jangan pernah malas untuk terus belajar. Sebab, kamu adalah salah satu orang yang nanti akan jadi pemimpin." tegasku sembari memberinya semangat.

    Mendengar pesanku dan wajahku yang serius, Amin hanya diam sambil menyuguhkan wajah polosnya.
    "yaudah, kamu harus ingat itu, kakak mau cepat-cepat pulang, nanti hujan lagi"
    "tapi nama kakak siapa?" tanyanya saat saya sudah mengenakan helm.
    "ohh iya saya belum bilang, nama kakak, Eghy Farma Djaya."
    "hehe, yaudah kak Eghy hati-hati dijalan." ucapnya dengan bibir yang masih iru
    "siap-siap!" pungkasku.

    Amin, anak itu berusia 12 tahun. Mendengar kisahnya yang belum pernah mengenyam pendidikan formal, bahkan untuk tingkat dasar. membuat mimpi saya untuk membuat Rumah Membaca bagi anak Indonesia kian semakin berkobar. Sebab mereka akan menjadi pemimpin, setidaknya bagi keluarga mereka kelak dan diri sendiri. saya berfikir, untuk menjadi pemimpin yang baik mereka harus sekolah, mereka harus tahu, mereka mesti paham.

    Jika tidak, apa yang bisa mereka lakukan nanti? Jika hanya menjadi juru parkir, saya rasa itu bukan pemimpin yang baik. Melainkan itu hanya profesi pelarian, yang disebabkan karena tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Hingga akhirnya mereka tidak dapat berkembang menjadi lebih baik dan mendapat pekerjaan yang layak.


    Eghy Farma Djaya

Sorot

TERKINI
Copyright © 2018 SASTRA ONLINE - All Rights Reserved | Supported by: PANDE