Elegi Musim Panas

    Senin, 25 Mei 2015 : 07.06
    musim panas

    Elegi Musim Panas
    kudengar haluan waktu menjuruskanmu,
    pada tiang-tiang penggantungan diri,

    sebab..
    patah hati disela kehidupan
    menggelincirkanmu di atas bebatuan curam
    kudengar rayuan angin tak bisa menggoyahkan hatimu,
    dari pahitnya kenangan,
    atau sebercak noda
    dari genangan air yang menyampah,
    dimuka rumahmu

    ada sekelebat tanya
    menggumpal di ujung nadiku,
    menjadikannya sebuah elegi senja hari
    yang senantiasa kusenandungkan
    dengan air mata
    dan sejuta amarah

    masih kudengar,
    kabarnya kau pergi dari mimpimu,
    mengejar angan yang lebih abstrak
    dan hanya menyisakan sejenak
    bekas punggungmu
    didekat hangatnya mentari

    berkelebat tanya menghantui jalur tidurku
    memaksaku menciptakan elegi lain dalam cermin
    aku bersenandung,
    dengan tumpahan kerat suara di atas retaknya imaji
    dengan coretan hidup
    dan sejuta sketsa kematian di setiap langkahku
    simpanan nada kematian,
    atau syair mematikan,
    kusatukan dalam sebuah lagu kepedihan,
    kubisikkan disetiap sinar matahari
    yang terkadang membakar kulit keringku
    sesekali kumengusap kening,
    berusaha tetap berdiri
    sambil menyentuh lutut-lututku
    dan diakhir syair,
    aku menatap langit,
    berharap ada yang mendengar jutaan syair lagu hampaku

    dan ketika bunga-bunga bertanya
    'elegi mengerikan apa itu?'
    yang terdengar dibalik bukit hanyalah bisikan
    elegi musim panas


    /Bandung, 07 Juni 2014
    Penulis: Suciani FS
    Ilustrasi: Sxu.edu

Sorot

TERKINI
Copyright © 2018 SASTRA ONLINE - All Rights Reserved | Supported by: PANDE